oleh

Pembakar Pos BPP Ditangkap, Motifnya Seperti Diduga

LINGGAUPOS.CO.ID – Tim gabungan Polda Sumsel dan Polres Muba berhasil menangkap tiga pelaku pembakaran pos security PT Bumi Persada Permai (BPP) yang terjadi di Desa Pagar Desa, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Muba, pada 19 Oktober 2021 malam.

Ketiganya ditangkap di tempat dan waktu yang berbeda setelah melakukan penyelidikan identitas dan keberadaan pelaku.

Awalnya, polisi mengamankan dua tersangka berinisial Fe alias Juber (29) dan Jn alias Emon (39) saat di rumah kontrakannya di  Desa Bayar Ilir, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Muba.

BACA JUGA: Massa Tak Dikenal Bakar Pos Timbangan BPP

Lalu setelah dilakukan pengembangan terhadap pelaku yang tertangkap, pada hari Sabtu (23/10/2021) sekira pukul 11.00 WIB, petugas juga mengamankan tersangka If alias Memo (21), saat berada di rumahnya di Desa Pangkalan Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Muba.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Toni Harmanto MH didampingi Direktur Ditreskrimum Kombes Pol Hisar Siallagan, Kapolres Muba Alamsyah Palupessy SIK dan Kasat Reskrim AKP Ali Rojikin menegaskan, motif pembakaran pos security ini adalah penutupan ratusan sumur minyak ilegal.

“Setidaknya ini terungkap saat ditangkapnya tiga pelaku pembakar pos security oleh petugas gabungan. Negara tidak boleh kalah terhadap pelaku kejahatan, amuk massa dengan membakar pos security,” tegas Kapolda Sumsel, saat merilis kasusnya di Polda Sumsel, Senin (25/10/2021).

Kapolda Toni menyebut, tiga pelaku yang diamankan memiliki peran signifikan terhadap aksi pembakaran yang melibatkan tak kurang dari 100 orang ini.

“Modusnya ya itu tadi, berangkat dari giat penegakan hukum 998 sumur minyak ilegal yang ditutup hanya dalam waktu satu hari. Mereka ini masih memaksa masuk karena lahan melewati pos BPP. Karena tak diizinkan hingga terjadilah tindakan pembakaran,” terang Toni.

Mantan Kapolda Sumbar ini menambahkan, tak hanya di wilayah Bayung Lencir, pihaknya juga bakal segera menutup sumur-sumur minyak ilegal lain yang ada di Muba bersama stake holder (pemangku kepentingan).

“Kita sudah empat kali melakukan FGD untuk membahas ilegal drilling di Sumsel. Kita juga mengundang SKK Migas, Kementerian ESDM dan KLHK karena terkait dampak lingkungannya,” ungkap Toni.

Ketiga pelaku dijerat dengan Pasal 187 ke 1e KUHP Jo Pasal 55 KUHP. Barang bukti satu buah dirijen warna putih ukuran 20 Liter, dua botol air mineral berisi minyak, dua mesin Jenset yang sudah terbakar, tiga buah sisa penampung air warna orange yang sudah terbakar dan potongan kayu yang terbakar.(sumeks.co)

Rekomendasi Berita