oleh

Tugumuljo 1958 (4)

Oleh: Hendy UP *)

Dualisme Pimpinan Daerah Swatantra Tk. II Musi Ulu Rawas mulai 1958 ini, tidak terlepas dari buntut Pemilu 1955 yang dilaksanakan pada 29 September dan 15 Desember 1955.

Dalam catatan, Pemilu 1955 di Kab. Musi Ulu Rawas menghasilkan 15 kursi DPRD, dengan rincian: Partai Masjumi 7 kursi, PNI 3 kursi, PKI 3 kursi dan PSII 2 kursi.

Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dan aturan turunannya, maka Bachtiar Amin selaku kader Partai Masjumi ditetapkan sebagai Kepala Daerah.

Tulisan Sebelumnya:
Tugumuljo 1958 (1)
Tugumuljo 1958 (2) 
Tugumuljo 1958 (3)

Maka Gub. Dati I Sumsel melantiknya pada 15 September 1958 di Gedung Nasional Lubuklinggau (kini sekitar Gedung Dekranasda) menghadap Taman Kurma Lubuklinggau.

Namun demikian, kekalutan politik di pusat dan daerah masih berkelindan dengan intrik-intriknya yang terkesan hendak mengempeskan partai Islam (Masjumi dan PSII).

Di level pusat, upaya konstitusional dilakukan dengan merevisi UU No. 1 Thn 1957 dengan UU No. 73 Thn 1957 khususnya pasal 7; lalu mengganti PP No. 32 Tahun 1957 tentang Dasar-Dasar Pemilihan dan Penggantian Anggt DPRD dengan PP No. 36 Tahun 1957.

Dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang diikuti Pen-Pres No. 6 Tahun 1959, ternyata menimbulkan polemik baru karena disebutkan bahwa Kepala Daerah diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atau Mendagri atas usul DPRD.

Jika yang diusulkan DPRD ditolak presiden, maka DPRD tidak diberi kewenangan untuk memberikan pertimbangan apapun.

Kebijakan yang otoriter-sentralistik ini disokong oleh Mendagri Sanoesi Hardjadinata (9 April 1957 – 10 Juli 1959) yang kader PNI dan diteruskan oleh Mendagri Ipik Gandamana hingga 27 Agust 1964.

Maka ditunjuklah Zainal Abidin Ning (dari Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) selaku Bupati Pamong Praja oleh Gubernur Sumsel hingga 1964.

Sementara Bachtiar Amin selaku Kepala Daerah yang dipilih secara sah oleh DPRD tidak bisa diberhentikan hingga akhir masa jabatannya tahun 1961.

Menurut pelaku sejarah, jika diungkapkan dalam bahasa kini, “….. di dalam birokrasi Pemda Tk. II Musi Ulu Rawas selama periode 1958-1961 terjadi perang dingin antara kubu Bachtiar Amin dan kubu Zainal Abidin Ning”. Demikianlah kisah singkatnya!

Srikaton, Sabtu Kliwon, 23 Agustus 1958.

Fajar baru saja menyingsing, ketika dinginnya udara pagi dalam samar-kegelapan menyeruak ke bale-bale Kantor Djawatan Transmigrasi Cabang Tugumuljo.

Bangunan kayu ini berada di bibir kiri kanal irigasi primer menuju arah pasar-kalangan Srikaton. Di sinilah Pak Menteri dan rombongan menginap.

Posisi kantor itu, kini berada di depan Polsek/Posramil Tugumulyo, agak ke hilir limapuluhan meter. Dari kejauhan, kini masih tampak utuh. Mungkin sudah beberapa kali direnovasi atap-dindingnya.

Terkesan warna dindingnya abu-temaram, namun masih keukeuh menyimpan jejak sejarah yang semakin menyuram.

Tiang penyangga atap beranda yang didesain miring 45 derajat ke halaman luar, agaknya semakin busuk-melapuk, seakan kelelahan menahan tumpukan buku kisah perjuangan “orang-orang transmigran” yang bertani-trukah demi masa depan anak-anaknya agar kelak meraih masa cerah!

Tak terasa keringat basah bersimbah dan pasrah dihisap lintah, ketika menebang kayu belantara, mengusir jin-brekasakan di kedalaman rawa dan mengobrak repuhan habitat ular sanca.

Rela menahan sedu-sedan, menyimpan kenangan kampung halaman; nun jauh di sebrang lautan, di negeri leluhur pewaris Sultan Mataram!

Yaa, bangunan model panggung setinggi pinggang itu juga berfungsi sebagai rumah tinggal kepala dan staf Djawatan Transmigrasi.. Terbuat dari kayu unglen pilihan, beratap sirap, berdinding papan yang bersusun menyirip-lintang, persis menghadap kanal ke arah timur.

Di sinilah pusat kegiatan masyarakat Tugumulyo semenjak tahun 1937 hingga 1950, sebelum dibangun gedung Balai Pendidikan Masyarakat Desa (BPMD) yang berada di seberangnya. [Bersambung].

Muarabeliti, 18 Januari 2022.

Komentar

Rekomendasi Berita